Kamis, 12 Juli 2012
~ Good Bye My love ~
Baca : Ulangan 6:10-15.
Sudah terlalu banyak saya melihat, orang2 yg kesusahan, banyak utang, problem rumah tangga, dsb datang kepada TUHAN. Mereka mengeluh & menyerah, tersungkur & berjanji2 dihadapan TUHAN: "Jika TUHAN menolongku, aku akan berubah." atau "Jika aku ditolong TUHAN, maka aku akan menyumbang gereja.", dsb,
Mereka minta konseling & saya layani dgn sungguh2, saya sediakan waktu, pikiran & hati, bahkan uang-pun saya pinjami, sampai masalahnya dipulihkan. Namun akhirnya, setelah masalahnya beres, mereka: "Goodbye my Love" & tak pernah menghubungi saya lagi. Itu sudah biasa bagi seorang Pendeta. Jadi, saya santai aja!
Namun, yg mengenaskan adalah, orang2 itupun akhirnya juga meninggalkan TUHAN & melupakan semua janji2 padaNYA! Manusia memang mahluk yg suka lupa berterimakasih.
Peringatan2 TUHAN yg ditujukan kepada umat Israel, juga merupakan peringatan bagi kita. Apakah Anda pernah melupakan janji2 yg Anda buat pada ALLAH?
Apakah Anda pernah tersungkur dihadapan TUHAN & melayani TUHAN sepenuh hati di-saat sulit, namun saat keadaan senang, Anda jadi terlalu sibuk & tak peduli lagi melayaniNYA!
Tuhan Yesus Kristus memberkati kita..amin..:)
====
HAFALKAN :
Ulangan 6:12 maka berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan.
(Sumber: EViC_RENUNGAN *EMBUN PAGI* PST.WENAS )
~BERLIMPAH DALAM PENGHARAPAN~
Bacaan:Roma 15:4-13
Dlm sebuah acara TV kemarin, saya melihat berita, seorang ayah & anaknya mengalami kecelakaan disebuah sungai yg deras arusnya. Perahu terbalik & mereka terlempar ke-dalam air. Tak lama sang ayah bisa muncul ke-permukaan air, tapi si-anak tak muncul2 juga.
Si-ayah segera mencari pertolongan & memanggil regu penyelamat. Anaknya belum juga kelihatan. Si-ayah menyadari bahwa anaknya sudah tenggelam beberapa menit, namun ia merasa bahwa anaknya masih hidup. Ia terus berharap!
Setelah 15 menit mencari & hasilnya nihil, regu penyelamat sudah yakin anak tsb telah mati. Tapi sang ayah memohon2 agar pencarian diteruskan utk terakhir kali. 3 org penyelam setuju melanjutkan misi itu. Tak lama 2 dari 3 penyelam itu muncul ke-permukaan & hasilnya nihil.
Tapi penyelam ke-3 tak muncul2 juga. 2 org rekannya yg cemas terjun kembali mencari rekannya. Tak lama justru 3 penyelam itu muncul semua sambil membawa anak kecil itu. Mereka semua selamat!
Ternyata si-anak terkurung di-bawah sebuah batu besar & ada rongga udara kecil di-bawah batu itu.
Kegagalan sering membuat org berputus asa. Namun jangan mau hidup dlm keputusasaan. Hiduplah dlm pengharapan! One Success Story always Revealed from Thousand Failures! Satu kisah Sukses selalu muncul dari ribuan Kegagalan!
------
HAFALKAN : Roma 15 : 13
Rom 15:13 Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.
(Sumber:EViC_Renungan Embun Pagi)
~Percaya walaupun tidak melihat~
Ketika belia, Corrie ten Boom (wanita Belanda yang banyak menyelamatkan kaum Yahudi dari kekejaman Nazi) mendengar Sadhu Sundar Singh bersaksi. Ketika kecil, Sadhu pernah membenci Yesus, membakar Alkitab, melempari misionaris dengan lumpur. Ia meminta Tuhan menampakkan diri jika Dia memang ada. Sadhu ingin tahu apa benar ada surga dan kehidupan setelah mati. Untuk membuktikannya, ia berpikir harus mati dulu. Maka, ia berencana menabrakkan diri pada kereta api yang melaju. Tiba-tiba cahaya menyilaukan melingkupinya. Dan, seorang laki-laki bertanya, sampai kapan ia akan menyangkal Tuhan yang telah mati baginya. Sadhu melihat lubang di tangan laki-laki itu.
Mendengar kesaksian itu, Corrie ingin mengalaminya juga, agar hidupnya mengiring Tuhan tak ”membosankan”. Namun, saat Corrie menyampaikan hal ini, Sadhu menjawab bahwa sesungguhnya pengalaman Corrie lebih ajaib dibanding pengalamannya: ”Saya harus melihat Yesus supaya bisa percaya, sedangkan Anda sudah memercayai Dia tanpa harus melihat.”
Kata Yesus kepada Tomas: ”Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yohanes 20:29). Sedikit murid bisa bertemu Yesus secara langsung. Namun, lebih banyak yang tak bertemu langsung. Itu sebabnya teguran Yesus kepada Tomas mewakili setiap kita yang belum pernah melihat Tuhan kasatmata.
Tuhan menegaskan bahwa bukan itu yang terpenting. Melainkan, apakah kita sungguh bersuka karena Tuhan kita ada dan hidup. Dan, secara pribadi mengalami bagaimana Dia hadir serta dekat dengan kita—dalam peristiwa besar maupun kecil di hidup kita.
Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya (Yohanes 20:29 b).
Tuhan Yesus Kristus memberkati kita..amin :)
(sumber:Renungan Harian).
~Percaya walaupun tidak melihat~
Ketika belia, Corrie ten Boom (wanita Belanda yang banyak menyelamatkan kaum Yahudi dari kekejaman Nazi) mendengar Sadhu Sundar Singh bersaksi. Ketika kecil, Sadhu pernah membenci Yesus, membakar Alkitab, melempari misionaris dengan lumpur. Ia meminta Tuhan menampakkan diri jika Dia memang ada. Sadhu ingin tahu apa benar ada surga dan kehidupan setelah mati. Untuk membuktikannya, ia berpikir harus mati dulu. Maka, ia berencana menabrakkan diri pada kereta api yang melaju. Tiba-tiba cahaya menyilaukan melingkupinya. Dan, seorang laki-laki bertanya, sampai kapan ia akan menyangkal Tuhan yang telah mati baginya. Sadhu melihat lubang di tangan laki-laki itu.
Mendengar kesaksian itu, Corrie ingin mengalaminya juga, agar hidupnya mengiring Tuhan tak ”membosankan”. Namun, saat Corrie menyampaikan hal ini, Sadhu menjawab bahwa sesungguhnya pengalaman Corrie lebih ajaib dibanding pengalamannya: ”Saya harus melihat Yesus supaya bisa percaya, sedangkan Anda sudah memercayai Dia tanpa harus melihat.”
Kata Yesus kepada Tomas: ”Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yohanes 20:29). Sedikit murid bisa bertemu Yesus secara langsung. Namun, lebih banyak yang tak bertemu langsung. Itu sebabnya teguran Yesus kepada Tomas mewakili setiap kita yang belum pernah melihat Tuhan kasatmata.
Tuhan menegaskan bahwa bukan itu yang terpenting. Melainkan, apakah kita sungguh bersuka karena Tuhan kita ada dan hidup. Dan, secara pribadi mengalami bagaimana Dia hadir serta dekat dengan kita—dalam peristiwa besar maupun kecil di hidup kita.
Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya (Yohanes 20:29 b).
Tuhan Yesus Kristus memberkati kita..amin :)
(sumber:Renungan Harian).
Baca : Lukas 9:37-43
~PERLINDUNGAN TUHAN~
Tahun 1825, beberapa penginjil merintis penginjilan di-kepulauan Fiji. Setelah bekerja keras bersaksi tentang TUHAN YESUS sebagai Juru Selamat bagi penduduk asli disana, akhirnya ada satu orang bertobat.
Suatu hari jiwa para penginjil ini terancam. Mereka akan dibunuh para penduduk asli yg sedang marah & tak senang pada mereka. Pisau & tombak siap dihunjamkan ke-para penginjil.
Di-saat2 paling kritis itu, mereka pasrah & segera berlutut & berdoa memohon perlindungan TUHAN. Sesudah berdoa, para penginjil itu terheran2. Para penyerang mereka telah pergi sambil berteriak2 mengucapkan2 kata2 yg tak dimengerti.
Akhirnya mereka bertanya pada penduduk asli yg sudah mereka tobatkan itu. Penduduk Asli yg sudah jadi Kristen itu berkata bahwa, para penyerang itu berteriak2 dalam bahasa Fiji yg artinya : "Matilah kita! Mereka punya Pengawal yg tinggi besar & kuat dibelakang mereka! Cepat lari! Kalo tidak, kita mati!"
----
Seringkali orang2 yg memusuhi kita lebih sadar daripada kita, bahwa TUHAN kita itu TUHAN yg Maha Kuasa! Sementara sering sikap kita seolah2 TUHAN itu tak berdaya. Kita mencoba menangani musuh & masalah kita dgn kekuatan kita sendiri.
Tuhan Yesus Kristus memberkati..amin.
HAFALKAN : Mazmur 106:8
Mazmur 106:8 Namun diselamatkan-Nya mereka oleh karena nama-Nya, untuk memperkenalkan keperkasaan-Nya.
(sumber EViC— di RENUNGAN *EMBUN PAGI* PST.WENAS)
" GARAM & TERANG "
Mat 5:13 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
Mat 5:14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
Mat 5:15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.
Mat 5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
===
~SINAR YANG MAKIN TERANG~
Korek api hanya menerangi daerah sempit. Sinar lilin lebih terang sedikit. Sebuah lampu lebih terang lagi & membuat sebuah ruangan menjadi terang. Semua disebut sinar, tapi dengan kadar terang yg berbeda2.
Saat mula2 diselamatkan, TUHAN tak mengharap kita tahu semua Firman & KehendakNYA.. Kita hanya mengenal sedikit terang FirmanNYA. Kita hanya tahu bahwa kita berdosa & harus binasa & kita harus mengakui YESUS TUHAN agar selamat. Terang kita bagai sebatang korek api.
Makin hari, hati kita lebih haus akan terang FirmanNYA, kita makin bersekutu dgnNYA & mengasihi sesama kita. Fase ini, hidup kita seperti sinar yg lebih terang, bagai : sebatang lilin.
Lalu kita makin bertumbuh & naik setingkat lagi. Kita menjadi seperti sebuah : Lampu. Kita rindu menjadi terang bagi semua orang dgn menjadi saksi Yesus. Di-Fase ini TUHAN mulai memberi kita banyak kesempatan utk bersaksi & membawa orang pada Kristus.
Keselamatan yg kita terima memberi pada kita kesempatan utk bersinar makin hari makin terang. Jgn biarkan terangmu padam! Bersinarlah seterang2nya bagi jiwa2 yg belum mengenal TUHAN
HAFALKAN : Mazmur 37:5-6
Mazmur 37:5 Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; 37:6 Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.
Tuhan Yesus Kristus memberkati kita..amin...
(Sumber:EViC — di RENUNGAN *EMBUN PAGI* PST.WENAS).
~Diselamatkan dalam Api~
Setiap orang pasti memiliki masalah di dlm kehidupan. Memiliki anak yang terlibat narkoba; kesulitan uang kuliah; penghasilan yang pas-pasan; pernikahan yang tidak rukun; kecelakaan dan penyakit yang tidak terduga.
Daftar ini mewakili sebagian persoalan sehari-hari yang dialami orang kristiani.
Dalam situasi seperti ini, bisa muncul keinginan untuk mencari solusi cepat.
Kalau bisa..,minta Tuhan turun dari surga dan melakukan mukjizat.
Supaya serta merta semua masalah sirna. Beban berat selesai dalam sekejap.
Akan tetapi, Tuhan tidak bekerja seperti itu.
Dalam kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, Tuhan tidak mencegah terjadinya peristiwa pembakaran itu, memadamkan api yang menyala-nyala, atau membinasakan Nebukadnezar sebelum pembakaran.
Namun, Tuhan mengizinkan api menyala-nyala dan mereka dilemparkan ke dalamnya. Justru di situlah Tuhan menunjukkan kehebatan-Nya. Mereka tidak diselamatkan dari api, tetapi justru masuk ke dalam api yang membara itu. Di situ Tuhan nyata menyertai dan meluputkan mereka dari kematian. Dan, inilah kesaksian yang membukakan mata Nebukadnezar (ayat 28).
Kerap kali demikianlah Tuhan menolong kita dalam hidup ini.
"Api yang membakar" bisa berupa berbagai persoalan yang mengancam keselamatan atau kebahagiaan kita.
Tuhan menolong kita bukan dengan mengangkat atau menghapus masalah itu.
Kita tidak dilepaskan dari masalah, tetapi ditolong dalam masalah itu.
Sebab, Tuhan dapat menyatakan kebesaran-Nya di situ.
Agar melalui masalah kita, orang bisa melihat kemuliaan Tuhan dan mengenal Tuhan yang hidup.
>>Katanya:"Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa! (Daniel 3:25)
APABILA "API" KESULITAN TETAP MEMBARA MENANTI KITA
TETAPLAH PERCAYA TUHAN MENOLONG DI DALAM "API" ITU.
(sumber;Renungan Harian).
“Mengapa Bebek Menguik & Elang Terbang”?
Suatu ketika, Harvey Mackay (sang pembicara motivasi) sedang menunggu antrian taksi di sebuah bandara. Lalu, sebuah taksi mengkilap muncul & mendekatinya.
Sang supir taksi pun keluar dgn berpakaian rapi, & segera membukakan pintu penumpang.
kemudian memberi Harvey sebuah kartu & berkata,"Nama saya Wally, silakan membaca pernyataan Misi saya."
Harvey kemudian membaca kartu tersebut:
“Misi Wally: Mengantar pelanggan ke tempat tujuan dgn cara tercepat, teraman,& termurah dalam lingkungan yg bersahabat.”
Harvey terkejut, terutama setelah ia melihat bagian dlm taksi sangat bersih.
Di balik kemudi, Wally berkata:
“Apakah Anda ingin Kopi? Saya punya yg Biasa & tanpa Kafein.”
Harvey pun berkata “Tidak, saya ingin minuman ringan saja.” ternyata Wally menjawab,
“Tak masalah, saya punya pendingin dgn Coke biasa dan Diet Coke, air, serta jus jeruk.”
Dgn terkagum2, Harvey berkata “Saya mau Diet Coke saja.”
Setelah memberikan Diet Coke, Wally pun kembali menawarkan
“Jika Anda ingin membaca, saya punya The Wall Street Journal, Time, Sports Illustrated dan USA Today."
“Apakah kau selalu melayani pelanggan seperti ini, Wally?” Tanya Harvey.
Dulu Saya Suka mengeluh seperti kebanyakan supir taksi. Kemudian saya mendengar Wayne Dyer di radio yg mengatakan bahwa ia baru saja menulis buku berjudul ‘You’ll See It When You Believe It’.
Ia mengatakan bahwa jika Anda bangun & mengharap hal buruk terjadi, maka itu hampir pasti terjadi.
Dan Ia berkata lg, ‘Berhenti mengeluh! Berbedalah dari pesaing Anda.
Jangan menjadi BEBEK..Jadilah ELANG..
BEBEK menguik & mengeluh.
ELANG membumbung tinggi diAngkasa.’
Cerita Wally sungguh inspiratif. Ia memberi layanan sebuah limo dari sebuah taksi, melipatgandakan penghasilan,karna ia memilih tuk menjadi Elang & bukannya Bebek.
Mengeluh tidak merubah Nasib jadi baik,malah jadi tambah sulit. Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
(sumber: Skyin Colour).
~ Kitab Ester ~
Nama Tuhan sama sekali tidak tercantum dalam kitab Ester, namun demikian umat-Nya dapat melihat dan mengalami karya-karya besar-Nya.
Ester adalah seorang gadis Yahudi yatim piatu,dipakai Tuhan untuk menjadi penyelamatkan orang Yahudi dari kebinasaan..,kemudian Ester menjadi ratu yang berpengaruh & dikasihi Raja Ahasyweros di Persia.
Tuhan adalah Raja di atas segala raja, Ia menggenapi rencana penyelamatan umat Tuhan dan melaksanakan penghukuman bagi Haman bin Hamedata yang jahat.
Tuhan menjaga hidup Mordekhai & seluruh orang Yahudi dari rencana pembantaian.Tuhan mengaruniakan harta,jabatan & kasih karunia yang besar untuk Mordekhai krn kesetiaan & ketaatan pada Tuhan.
Melalui peristiwa penyelamatan inilah kemudian dirayakan sebagai hari raya Purim.
yaitu hari perayaan sukacita atas pembalikan keadaan yang terjadi pada bangsa Yahudi pada zaman Ester, dari rancangan pemusnahan suatu bangsa menjadi kemenangan besar.
>>Karena Mordekhai, orang Yahudi itu, menjadi orang kedua di bawah raja Ahasyweros, dan ia dihormati oleh orang Yahudi serta disukai oleh banyak sanak saudaranya, sebab ia mengikhtiarkan yang baik bagi bangsanya dan berbicara untuk keselamatan bagi semua orang sebangsanya.(Ester 10:3).<<
====
Dari kitab Ester kita dpt memetik berbagai hikmah ,a.l:
>Mari kita senantiasa berikhtiar yg baik kepada sesama ,taat kepada Tuhan spt Mordekhai shg beroleh hidup yg baik,sukacita & dihormati byk orang & dikasihi Tuhan..
>Jauhi hati yg dengki,tipu muslihat jahat,jgn sampai spt Haman yg berakhir dgn kematiannya sendiri akibat dr perbuatan jahatnya yg dirancang hatinya..
>Miliki keberanian,kebijakkan,kerendahan hati di dlm setiap kebenaran spt Ester,shg dia dpt menyelamatkan seluruh bangsanya..
>Janganlah kita dgn mudah digoyahkan & dihasut utk berbuat kejahatan spt Ahasyweros yg dihasut Haman,yg berakhir dgn kericuhan kerajaannya.
>Terakhir adlh..,yakinlah & teguhkan hati kita...;
"Tuhan yang tidak terlihat mata secara nyata di dlm kehidupan kita,
berada di balik setiap karya agung mulia yang terlihat nyata di dalam hidup kita...,
dan DIA yg membawa hidup kita ke arah yg baik & digenapi sesuai rancangan-Nya yg terindah".
Tuhan Yesus Kristus memberkati kita..amin.:)
~Perjalanan Hidup~
“Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya.” Mazmur 139:16
Saat kegelapan melingkupi hati kita. Saat kesuraman menutupi jiwa kita. Saat langkah kita terseok-seok. Kita takut, gelisah, cemas dan ragu-ragu. Hati kita bertanya-tanya, apakah yang akan terjadi? Sedang hati belum siap menerimanya. Apa yang ada di depan pintu hidup kita? Kehancurankah? Kematiankah? Atau lebih buruk dari semuanya.
Firman Tuhan menjelaskan bahwa Tuhan sudah melihat kita sebelum kita jadi seorang bayi. Di dalam kitab Tuhan semua hari-hari yang akan kita lewati sudah tertulis dan tidak ada yang kelewatan sedikitpun. Dengan demikian kita tahu, bahwa tidak ada sesuatupun yang terjadi tanpa seijin Tuhan. Setiap langkah kita telah diketahui Tuhan, hal-hal yang ada dalam pikiran kita Tuhan tahu, bahkan hal-hal yang akan terjadi semuanya sudah tertulis dalam Kitab Tuhan.
Masa depan kita, kesuksesan kita, jabatan, pangkat, rumah tangga, bahkan anak-anak kita tidak ada yang secara kebetulan. Semua sudah tertulis dalam Kitab Tuhan. Langkah yang pasti, percaya, berserah, menenangkan diri, bahkan berjuang maju terus adalah jalan yang terbaik. Jika saat ini perkara buruk sedang terjadi, janganlah kecewa, janganlah menyesal, semua itu adalah untuk menetapkan langkah kita agar berjalan lurus sesuai kehendak dan rencana Tuhan. Saat kita lemahpun Tuhan tahu, saat kita tidak berdayapun Tuhan tahu, bahkan saat kita merasa kuatpun Tuhan melihat semuanya.
Marilah kita terus berjuang untuk maju, berlari untuk memenangkan rencana Tuhan dalam hidup kita. Tetap bersemangat dan terus maju, karena semua jalan hidup kita telah tertulis dalam Kitab Tuhan. Amin.
(sumber;Pendoa Sion)
~Kekuatan Rumah Tangga~
“Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya” Mazmur 127:1
Sampai saat ini masih ada banyak orang membangun rumah tangga dengan kekuatan sendiri. Ada orang yang membangun rumah tangga berdasarkan cinta kasih mereka yang tulus. Mereka percaya bahwa dengan cinta kasih mereka rumah tangga mereka akan kuat dan bahagia. Tetapi mereka tidak menyadari bahwa sama seperti mereka yang dulunya biasa-biasa saja kemudian berubah saling mencintai, demikian juga sesungguhnya dapat terjadi dari saling mencintai berubah menjadi saling membenci. Karena dalam perjalanan waktu ada banyak rintangan dan godaan, bahkan pencobaan-pencobaan yang dapat melukai hati. Atau menemukan sesuatu kejenuhan, pada saat hal itu terjadi ada sesuatu yang lain yang memberi penyegaran. Goncangan-goncangan dan perubahan-perubahan yang terjadi inilah maka dapat mengubah cinta yang tulus berubah menjadi kesakitan dan kebencian, meskipun tidak menutup kemungkinan melalui goncangan-goncangan di tengah jalan justru membangun sebuah cinta yang semakin kuat.
Pemazmur menulis bahwa jika bukan Tuhan yang membangun rumah tangga, maka sia-sialah orang yang membangunnya. Artinya, bagaimana saya dan saudara membangun sebuah rumah tangga yang di dasarkan atas Firman Tuhan, karena cinta kita tidak cukup kuat untuk membangun rumah tangga yang harmonis. Cinta kita yang tulus dapat dihancurkan oleh sakit hati. Cinta kita bisa dihancurkan oleh percekcokan, kekecewaan, kesukaran-kesukaran yang berkepanjangan, perbedaan pendapat bahkan oleh perubahan-perubahan situasi dan kondisi. Oleh sebab itu kekuatan rumah tangga dapat dibangun melalui Firman Tuhan. Alkitab sudah menjelaskan dengan gamblang bagaimana sebuah rumah tangga itu dibangun.
Marilah kita bangun rumah tangga kita berdasarkan kekuatan Firman Tuhan dan bukan dengan kekuatan kita sendiri. Amin. Tuhan Yesus memberkati.
(sumber:Pendoa Sion)
~Kekuatan Rumah Tangga~
“Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya” Mazmur 127:1
Sampai saat ini masih ada banyak orang membangun rumah tangga dengan kekuatan sendiri. Ada orang yang membangun rumah tangga berdasarkan cinta kasih mereka yang tulus. Mereka percaya bahwa dengan cinta kasih mereka rumah tangga mereka akan kuat dan bahagia. Tetapi mereka tidak menyadari bahwa sama seperti mereka yang dulunya biasa-biasa saja kemudian berubah saling mencintai, demikian juga sesungguhnya dapat terjadi dari saling mencintai berubah menjadi saling membenci. Karena dalam perjalanan waktu ada banyak rintangan dan godaan, bahkan pencobaan-pencobaan yang dapat melukai hati. Atau menemukan sesuatu kejenuhan, pada saat hal itu terjadi ada sesuatu yang lain yang memberi penyegaran. Goncangan-goncangan dan perubahan-perubahan yang terjadi inilah maka dapat mengubah cinta yang tulus berubah menjadi kesakitan dan kebencian, meskipun tidak menutup kemungkinan melalui goncangan-goncangan di tengah jalan justru membangun sebuah cinta yang semakin kuat.
Pemazmur menulis bahwa jika bukan Tuhan yang membangun rumah tangga, maka sia-sialah orang yang membangunnya. Artinya, bagaimana saya dan saudara membangun sebuah rumah tangga yang di dasarkan atas Firman Tuhan, karena cinta kita tidak cukup kuat untuk membangun rumah tangga yang harmonis. Cinta kita yang tulus dapat dihancurkan oleh sakit hati. Cinta kita bisa dihancurkan oleh percekcokan, kekecewaan, kesukaran-kesukaran yang berkepanjangan, perbedaan pendapat bahkan oleh perubahan-perubahan situasi dan kondisi. Oleh sebab itu kekuatan rumah tangga dapat dibangun melalui Firman Tuhan. Alkitab sudah menjelaskan dengan gamblang bagaimana sebuah rumah tangga itu dibangun.
Marilah kita bangun rumah tangga kita berdasarkan kekuatan Firman Tuhan dan bukan dengan kekuatan kita sendiri. Amin. Tuhan Yesus memberkati.
(sumber:Pendoa Sion)
~Takkan Menyerah~
Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu,lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring (Markus 2:4)
===
Iman dan usaha untuk berbuat sesuatu adalah ibarat dua sisi dari sekeping mata uang yang tak terpisahkan. Tanpa ada perbuatan yang dilakukan, diragukan bahwa di situ ada iman (Yakobus 2:14-18). Bukankah perbuatan kita merupakan penampakan dari apa yang kita imani?
Sekumpulan orang yang beriman kepada Yesus menyaksikan bagaimana Yesus mengajar dengan kuasa dan mukjizat, serta menyembuhkan orang sakit (Markus 1:21-28).
Dari situ, hati mereka tergerak untuk menolong teman sekampung mereka yang sejak kecil lumpuh dan tersisih hidupnya. Mereka beriman Yesus mampu menyembuhkan maka mereka tidak diam saja.
Meski banyak rintangan: mungkin rumah si lumpuh jauh, mungkin tubuhnya berat. Ditambah lagi, ketika sampai di tempat Yesus, ternyata rumah itu penuh sesak dan orang-orang tak mau memberi jalan.
Namun, sekali lagi iman itu mereka wujudkan dengan usaha yang pantang menyerah. Mereka membuka atap rumah, dengan risiko si empunya rumah marah.
Iman yang besar kepada Yesus memampukan mereka mengatasi segala hambatan. Ketika si lumpuh diturunkan, Yesus melihat iman mereka yang mau berusaha itu dan memberi kesembuhan.
Iman itu menjadi kenyataan karena anugerah Allah di dalam Kristus, bukan karena kemampuan mereka sendiri.
Apabila kita sedang menghadapi sebuah tugas atau tantangan hidup yang butuh iman dan perjuangan keras, ingatlah kisah ini.
Teguhkan iman dengan memandang kebesaran Allah yang sanggup menolong sehingga menguatkan kita untuk berjuang pantang menyerah.
Serahkan ketidakberdayaan kita ke tangan yang tepat, yakni Tuhan Yesus Kristus yang mampu membuat iman kita menjadi kenyataan.
IMAN MENGARAHKAN MATA KITA KEPADA YESUS YANG HEBAT
AGAR DENGAN IMAN ITU KITA MEMBERI USAHA TERBAIK KITA
(Renungan Harian).
~Goresan yang kita buat~
Kehidupan manusia itu sama seperti pensil. Sebatang pensil dapat memberikan kita pengertian yang dalam tentang suatu kehidupan sehingga kita pun mampu menjalankan kehidupan dengan unggul.
Pensil mengingatkan kita ketika menulis, ada tangan yang selalu membimbing langkah kita dalam hidup ini. Kita tahu tangan siapa itu. Itulah tangan Tuhan yang membimbing kita untuk menuliskan buku kehidupan kita.
Saat pensil sudah mulai tumpul, itulah saatnya pensil diraut. Pensil yang diraut menggambarkan diri kita yang dibentuk, dijadikan tajam dan dapat dipakai kembali. Seakan-akan kita menderita. Setelah selesai, rautan berupa tantangan, penderitaan, ataupun permasalahan dalam hidup kita itu membuat kita tajam dan lebih baik / berkualitas.
Berbicara mengenai pensil, selalu berbicara mengenai penghapus. Jika terjadi kesalahan dalam menulis, penghapus dapat dipakai untuk menghapus hal-hal yang salah tersebut. Ketika kita melakukan hal-hal yang salah, kita dapat menghapus dan memperbaikinya agar tidak ada kesalahan.
Pensil selalu meninggalkan tanda / goresan. Karena itu, hati-hatilah dalam berpikir, berkata, dan bertindak agar goresan yang kita tinggalkan bisa memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Bagian luar dari pensil bukanlah bagian luarnya, tapi bagian dalamnya. Hal itu berlaku juga untuk diri kita. Bagian yang terpenting adalah di dalam kita yaitu hati dan pikiran. Karena itu, pupuklah selalu dengan firman Tuhan.
Dari sebatang pensil, hari ini kita belajar tentang kehidupan yang bagaimana yang harus kita jalani. Apa yang menjadi bagian kita dan kita mulai melakukannya, pada saat ini juga.
>>Tinggalkan goresan yang berarti di dalam kehidupanmu maupun kehidupan orang lain, bukannya goresan yang menyakitkan.
Amsal 15:24;“Jalan kehidupan orang berakal budi menuju ke atas, supaya ia menjauhi dunia orang mati di bawah”
(sumber:Jawaban.com)
KELEDAI DI MINGGU PALMA
Bak pemimpin politik, Yesus memasuki kota Yerusalem. Orang-orang, yang mendengar bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem, berhamburan keluar.
Mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: ”Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!” (Mat. 21:9).Hosana merupakan aliterasi dari bahasa Ibrani yang berarti selamatkan kami. Dalam seruan itu tersirat harap: Yesus menyelamatkan Israel dari belenggu Roma. Dan tindakan penyelamatan itu diharapkan muncul dari Pribadi yang mengendarai keledai.
BELAJAR DARI KELEDAI
Marilah kita arahkan mata-hati kita pada keledai yang menjadi tunggangan Yesus orang Nazaret. Ketika mendengar kata ”keledai”, mungkin yang tergambar dalam benak kita ialah binatang lamban, lemah, bahkan bodoh. Gambaran yang tidak sepenuhnya salah. Dari segi kecepatan, Keledai (Equus asinus) memang tak bisa disamakan dengan kuda (Equus caballus), meski keduanya satu genus. Dalam mekanika dikenal istilah ”tenaga kuda” yang merupakan ukuran kemampuan mesin. Tak ada istilah ”tenaga keledai”. ”Pacuan kuda”—yang sering menjadi ajang judi— juga lebih lazim terdengar ketimbang ”pacuan keledai”. Keledai memang tak seagresip kuda. Jalannya lambat. Saking lambatnya terkesan malas. Tak punya inisiatif.
Ada peribahasa ”Seperti keledai.”Artinya: bodoh atau keras kepala. Ada lagi peribahasa ”Keledai hendak dijadikan kuda.” Artinya: orang bodoh hendak dipandang sebagai orang pandai. Dalam kedua peribahasa itu, keledai dipandang sebagai binatang bodoh. Tak heran, banyak orang tersinggung kala dijuluki: ”keledai”. Namun, jangan pula kita lupa, ada peribahasa baik tentang keledai: ”Keledai tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.” Peribahasa itu berarti sebodoh-bodohnya keledai, binatang itu toh belajar dari pengalaman.
Kegagalan dijadikannya pelajaran agar tidak terulang lagi. Keledai belajar dari sejarah. Anehnya, manusia (Homo Sapiens ’manusia yang berpikir’) malah sering mengulangi kesalahan yang sama. Manusia agaknya perlu belajar dari keledai perihal memetik kearifan masa lampau. Hanya itukah? Tidak. Keledai merupakan binatang pekerja berat. Dia bukan pemalas. Jalannya memang lambat, tetapi semua tugas dituntaskannya. Keledai jelas mempunyai ketahanan kerja tinggi. Aton, bahasa Ibrani untuk keledai, mengacu pada daya tahannya. Dalam sehari keledai sanggup berjalan sejauh 30 kilometer. Meski lambat, keledai konsisten menjalani panggilannya. Dia tidak pernah mutung.
TUHAN MEMERLUKANNYA
Pada masa itu di Palestina, keledai bukanlah hewan yang dianggap hina, melainkan terhormat. Bila raja pergi berperang, ia akan mengendarai kuda. Jika raja datang dengan maksud damai, ia akan mengendarai keledai. Yesus masuk ke Yerusalem bukan untuk menaklukkannya secara politis, melainkan untuk menyerahkan diri-Nya. Dia datang bukan untuk berperang, melainkan menawarkan damai. Bukan paras garang, tetapi paras lemah lembutlah yang ditampilkan-Nya. Yesus datang dalam damai dan demi kedamaian. Dan keledai merupakan simbol perdamaian. Keledai menjadi wahana kedatangan Yesus ke Yerusalem. Meski tak dianggap oleh kebanyakan orang karena tak segagah kuda, lamban, dan terkesan bodoh, keledai dihargai Sang Guru dari Nazaret. Bahkan, kepada para murid yang diutus untuk menjemput keledai tersebut, Yesus berpesan, ”Tuhan memerlukannya.”
Tuhan memerlukannya! Yesus—Allah yang menjadi Manusia—tak sungkan untuk mengaku bahwa Dia membutuhkan pertolongan keledai muda itu. Yesus tidak menyembunyikan kenyataan tersebut, Dia berkata dengan terus terang. Dia sungguh-sungguh membutuhkan keterlibatan keledai dalam menggenapi misi-Nya: menjadi pendamai antara Allah dan manusia. Yesus memang membutuhkan peran serta keledai yang belum pernah ditunggangi orang. Kenyataan itu selaras pula dengan maksud kedatangan-Nya ke Yerusalem. Hewan yang akan digunakan untuk maksud suci haruslah hewan yang belum pernah dipakai untuk tujuan apa pun. Keledai muda itu secara tidak langsung diangkat menjadi rekan sekerja Yesus dalam menuntaskan misi-Nya: menjadi Juruselamat dunia.
Menjadi rekan sekerja Yesus dan menjadi simbol perdamaian merupakan tugas yang mesti dijalani keledai muda itu. Tak ada paksa memaksa di sini. Yesus tidak memaksa keledai tersebut untuk tunduk kepada-Nya. Sebaliknya, sang keledai pun kelihatannya pasrah bongkokan ’menerima tanpa syarat’ kala para murid menghamparkan pakaian mereka di atas punggungnya. Tak ada pemberontakan. Yang ada hanyalah kerelaan terlibat dalam karya Tuhan. Dia bersikap laksana hamba Tuhan: tak menolak kerja dan rindu menyenangkan hati Tuhannya.Bahkan, sang pemilik keledai itu pun, tak berkuasa untuk menolak permintaan Yesus. Lagi pula siapa yang bisa menolak Tuhan jika Dia memang memerlukannya? Di Minggu Palma ini kita kembali menyaksikan Allah yang menjadi Manusia itu memasuki Yerusalem. Kedatangan-Nya memang hendak menggenapkan janji Allah dalam diri-Nya. Dia datang ke Yerusalem memang untuk mati.
TUHAN MEMERLUKAN KITA?
Yang sungguh perlu kita pikirkan sekarang ini: Apakah Tuhan memerlukan kita? Jangan pikirkan perkara-perkara besar atau tugas-tugas besar! Keledai di Minggu Palma hanya mengerjakan bagiannya. Dia tidak mengubah diri menjadi kuda perang. Itu memang mustahil dilakukannya. Dia menjadi dirinya sendiri. Namun, ia menyelesaikan tugasnya dengan baik. Ya, apakah Tuhan memerlukan kita? Untuk tugas apa? Mungkin untuk menjadi seorang eyang yang baik atau orang tua yang baik atau untuk menjadi aktifis yang baik atau anggota majelis yang baik atau menjadi karyawan yang baik atau menjadi majikan yang baik. Baik di sini berarti kita mampu mengerjakan semua yang Tuhan berikan kepada kita untuk ditanggungjawabi.
Sekali lagi, apakah Tuhan memerlukan kita? Jika Saudara sudah mendapatkan jawabannya, maukah Saudara memenuhi panggilan Tuhan itu?
Pdt. Ir. Yoel M. Indrasmoro, S.Th.
~Apakah yang utama..?~
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya ... (Matius 6:11)
At.Mosphere Restaurant adalah restoran tertinggi di dunia karena berada di lantai 122 Burj Khalifa, Dubai (gedung tertinggi dunia dengan ketinggian 800 meter). Menu yang ditawarkan adalah makanan Eropa.
Dan, para tamu disarankan memesan sebelumnya, agar pihak restoran bisa menghadirkan pengalaman khusus, yang membuat orang datang kembali. Ya, bagi orang-orang kaya—baik di negara kaya, berkembang, maupun miskin—makan bukan lagi masalah mengisi perut dengan makanan sehat, tetapi mencari kepuasan dengan makanan bergengsi. Harga tidak menjadi soal.
Saat ini, sebagian besar penduduk dunia masih bergumul dengan ”makan apa hari ini”. Sedangkan kelas menengah bergumul ”makan di mana hari ini”.
Namun, orang kaya—yang hanya 20%, tetapi menguasai 80% kekayaan dunia—kerap bergumul ”makan siapa hari ini”.
Kenyataan ini menunjukkan, betapa pentingnya setiap manusia mengalami kebesaran kasih Allah di dalam Kristus (Yohanes 3:16). Agar mereka mengalami hidup yang baru. Yakni hidup yang tidak berpusatkan kepada diri sendiri, tetapi berpusat kepada Allah dan memikirkan kepentingan orang lain juga (Filipi 2:4).
Seperti Kristus, yang rela mengesampingkan kepentingan-Nya sendiri, bahkan mengambil rupa manusia dan menjadi hamba. Agar oleh pengurbanan-Nya, Dia dapat memberi hidup baru bagi setiap orang yang mau menerima-Nya dan hidup bagi Allah
Mari kita periksa nafsu makan dan semua nafsu hidup kita hari ini;
apakah itu untuk memuaskan kedagingan kita atau untuk memuliakan Bapa di surga
APABILA TUHAN DAN SESAMA MENJADI YANG TERUTAMA
TUHAN AKAN MENJADIKAN HIDUP KITA BERGUNA DAN BERMAKNA.
(sumber:Renungan Harian).
WASPADALAH TERHADAP KEJAHATAN ROHANI TERSELUBUNG
Matius 23:23-24
Tentu ada alasannya bila sampai Allah mengecam keras cara ibadah dan persembahan yang dilakukan umat-Nya. Terlebih lagi bila sampai Allah nyatakan kepada para ahli taurat dan orang-orang Farisi yang nota bene dianggap mafan seluk beluk soal agama.
Tapi apa masalahnya? Ada apa dengan cara beribadah mereka? Juga tentang soal persembahan mereka? Bila kita cermati melalu kebenaran firman Tuhan ini, ternyata ada kesalahan mendasar sehingga mereka dimurkai Allah. Mereka memang taat beribadah tanpa cacat. Mereka juga setia memberikan korban persembahan.
Tapi masalahnya, mereka mengabaikan sisi lain yang sangat penting yaitu keadilan dan kebenaran. Mereka memeras dan menindas yang miskin dan orang yang lemah. Bahkan tidak mau berdamai dan mengampuni saudaranya.
Rick Warren pernah mengatakan, bahwa penyembahan bukanlah sekedar musik atau ritual yang kita lakukan di gereja, tetapi penyembahan adalah sebuah gaya hidup. Penyembahan yang sebenarnya adalah seluruh kehidupan kita yang kita berikan bagi Allah.
Tuhan tidak hanya melihat penyembahan kita secara fenomenal atau yang kelihatan saja, tetapi melihat seluruh kehidupan kita, apakah hidup kita sebenarnya menunjukkan kehidupan yang benar dan berkenan di hadapan Allah. Sudahkah kita memperhatikan keadilan dan kebenaran di dalam kehidupan kita? Tuhan membenci dan menolak ibadah bangsa Israel karena kehidupan mereka tidak menunjukkan keadilan dan kebenaran. Mereka mengangkat tangan, menyanyi dan memuji Tuhan, tapi hidup mereka jauh dari keadilan dan kebenaran! Keadilan dan kebenaran adalah dua aspek penting dalam kehidupan. Pertanyaan bagi kita semua sekarang adalah, bagaimanakah sebenarnya hidup yang benar di hadapan Tuhan itu?
Bagi Allah yang penting bukanlah rutinitas mereka beribadah (ay.21), bukan korban-korban bakaran dan korban sajian yang dipersembahkan (ay.22), bukan domba gemuk tanpa cacat (ay.22), bukan nyanyian dan tarian kegembiraan sebagai ungkapan penyembahan umat pada khaliknya (ay.23), bukan! Tetapi Allah berkata: “Jauhkanlah semua itu.” Bukan berarti semua itu, yaitu korban, nyanyian dan persembahan tidak penting. Itu semua perlu dan penting, tetapi jika itu semua itu dilakukan di hadapan Allah dengan tidak disertai dengan hidup yang benar dan adil, semuanya akan sia-sia! Tuhan berkata: “Aku membenci, dan menghinakan semua itu” Jika demikian, untuk apa semua ritual ibadah yang kita lakukan? Ternyata, bagi Allah hidup dalam kebenaran dan menyatakan keadilan bagi sesama jauh lebih penting dari hanya sekedar rutinitas ibadadah.
Saudara, bagaimana dengan ibadah dan kehidupan kita pada masa ini? Apakah kita sudah menyatakan keadilan dan kebenaran? Jika tidak, maka berarti kita belum beribadah dan hidup secara benar di hadapan Tuhan, kita gagal memberikan penyembahan yang sejati kepada Allah Pencipta langit dan bumi.
Setiap orang percaya kepada Kristus memiliki natur sebagai seorang penyembah di hadapan Tuhan. Tapi pertanyaannya, apakah kehidupan kita selama ini menyatakan penyembahan yang benar kepada Tuhan, atau kita hanya menyembah ketika kita ada di gereja?
Karena itu mestilah kita mengerti bagaimana penyembahan bisa menjadi penyembahan yang sejati, sebuah penyembahan yang dapat menyenangkan hati Tuhan. Kita semua harus menjadi penyembah yang sejati, we must become the True Worshipper!
Setiap kita dipanggil menjadi umat Allah, menjadi umat Allah berarti siap untuk hidup benar di hadapan-Nya, sehingga setiap saudara bukanlah memiliki penyembahan yang sia-sia, tetapi penyembahan yang sejati.
Mari bersama-sama belajar untuk menjadi seorang penyembah yang sejati. Penyembah yang sejati adalah mereka yang hidup benar di hadapan Allah. Mereka yang hidup dengan memperhatikan keadilan dan kebenaran, serta mereka yang hidup dengan menjadikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan. AMIN!
"Pdt.Kristinus Unting".
~Merayakan Perbedaan~
Sesungguhnya aku telah mengerti bahwa Allah tidak membedakan orang
(Kisah Para Rasul 10:34)
Perbedaan antara Petrus dan Kornelius bak minyak dengan air. Yang satu orang Yahudi, yang satu orang Romawi (secara sosial-politis, posisi mereka berseberangan bahkan bermusuhan). Yang satu orang awam, yang satu centurion (tentara). Dari sisi perhitungan kekuatan: satu lemah, satu kuat karena bersenjata.
Namun, ada satu hal yang menyatukan mereka: keduanya mendapat inspirasi dari Roh Kudus. Petrus mendapat penglihatan “aneh” untuk ukuran ke-Yahudi-annya. Sementara Kornelius mendapat pesan untuk mengundang Petrus ke rumahnya, kira-kira tiga jam berselang setelah Petrus mendapatkan visinya yang pertama (ayat 9, 30).
Mereka sangat berbeda, tetapi ada ”sesuatu” yang lebih besar dari mereka, yang mempertemukan mereka sehingga keduanya saling meneguhkan. Kisah Kornelius membuat Petrus mengerti maksud dari visi “aneh” yang ia lihat. Penjelasan teologis Petrus membuat Kornelius memahami karya Allah dalam hidup, kematian dan, kebangkitan Yesus.
Roh Kudus bekerja melalui perbedaan untuk memperkaya wawasan rohani anak-anak Tuhan. Itu sebabnya Petrus berkata, “Sesungguhnya aku telah mengerti bahwa Allah tidak membedakan orang.
Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya” (34-35).
------
Barangkali kita tengah bekerja sama dengan orang atau pihak lain yang sama sekali berbeda jenis dan gaya pelayanan.
Masing-masing unik. Tak perlu risau. Melalui karya Roh Kudus, Tuhan dapat mempertemukan pengalaman setiap orang yang berlainan untuk saling meneguhkan, juga saling memperkaya pengalaman rohani
ROH KUDUS SELALU MEMBANGUN JEMBATAN KASIH
DI TENGAH BANYAKNYA PERBEDAAN PRIBADI
(sumber:Renungan Harian)
~Pertolongan-Nya selalu Tepat Waktu~
Ayub 10:12....Hidup dan kasih setia Kaukaruniakan kepadaku, dan pemeliharaan- Mu menjaga nyawaku."
Pasukan Jepang pernah menembak jatuh sebuah pesawat Amerika yang kemudian jatuh menabrak belukar.
Ada 3 orang awak pesawat yang selamat dan tidak mengalami luka apapun. Mereka bisa bertahan hidup selama 10 bulan di hutan belukar yang luas. Mereka mengambil apapun yang dapat mereka ambil dari dalam pesawat, termasuk sebuah cermin kecil.
Suatu hari ketika mereka kehabisan makanan, mereka memutuskan untuk pergi memancing di laut. Sesampai di pantai, mereka menemukan sartu kardus ikan kaleng yang dihempaskan gelombang ke pantai.
Ikan-ikan kaleng itu berasal dari kapal Jepang yang dibom oleh Amerika.
Beberapa waktu kemudian pesawat pengintai Amerika terbang berputar-putar di atas pantai, dan tanpa menunggu ke 3 tentara itu mengeluarkan cermin dan memberi tanda kepada pesawat pengintai tersebut.
Sang pilot mengerti tanda yang diberikan melalui cermin itu, sehingga beberapa hari setelah itu, sebuah kapal selam datang pada malam hari untuk menjemput ke 3 tentara itu.
Jika kita memperhatikan cerita di atas, ada bagian-bagian yang tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Karton yang berisi ikan kaleng yang dihempaskan ombak ke pantai, dan cermin yang diambil oleh tentara tersebut.
Semua kejadian yang tersusun dengan baik itu membawa kita pada satu kesimpulan bahwa ada Seseorang yang mengaturnya.
Banyak kejadian sehari-hari yang sepertinya terjadi secara kebetulan. Ketika kita diperhadapkan pada kebutuhan mendesak sedang uang sudah tidak ada, tiba-tiba ada saja orang yang datang menawarkan atau bahkan memberikan bantuan.
Ketika sedang putus asa atau mengalami kekeringan rohani, ada saja orang yang mengajak untuk mengikuti persekutuan doa, atau membaca buku yang menguatkan iman.
Saudaraku, Tuhan mengasihi Anda. Dan Ia mampu menolong Anda di saat yg tepat, sebab Ia tdk pernah terburu2 dan jg tdk pernah terlambat.
PertolonganNya selalu TEPAT WAKTU...♥ !
YANG TERUTAMA DI DALAM KEHIDUPAN
Hari Minggu di TV ada berita penyanyi Whitney Houston (48 tahun) meninggal hari Sabtu di California. Dia penyanyi terkenal di dunia dengan suara 5 oktaf, yang menyabet 7 Grammy Award, meninggal di malam Grammy Award ke-54.
Pada saat doa keluarga siang hari, Roh Kudus mengingatkan saya mengenai Whitney Houston ini, dan kita bertanya kepada Tuhan Yesus apakah dia sekarang ada di surga? Ternyata jawaban Tuhan Yesus sangat tegas: dia ada di neraka. Waktu kita tanya penyebabnya, karena: akar pahit dalam hatinya!
Memang menurut berita dia meninggal karena pengaruh narkoba. Dia juga perokok berat yang menyebabkan emfisema. Emfisema adalah kondisi di mana kantung udara/ alveolus paru-paru kehilangan kemampuannya untuk mengembang dan mengempis. Orang yang “membinasakan bait Allah”, maka dia juga akan dibinasakan oleh Allah. Akan tetapi kecanduan narkoba dan rokok bukan penyebab utama dia ditolak oleh Tuhan, tapi karena akar pahit dalam hatinya.
Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu. (1 Korintus 3:17)
Whitney menikah kedua dengan penyanyi rap Bobby Brown tahun 1992. Dia menikah di puncak kariernya ketika filmnya “Body Guard” bersama Kevin Costner menjadi blockbuster. Pernikahannya ini penuh dengan masalah, yang menyeretnya kecanduan narkoba dan rokok, dan diakhiri dengan perceraian tahun 2007. Semenjak menikah, kariernya mulai surut sampai hari Sabtu dia ditemukan meninggal di kamar hotel di Beverly Hills California.
Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. (Galatia 5:19-21)
Jika sekarang kita membayangkan Whitney yang mengalami penderitaan kekal sengsara di neraka, mungkin pikiran akan teringat dengan semua yang pernah dijalani di dunia. Dia akan berpikir:
- "Mengapa aku menyimpan kepahitan hidup dan tidak mau mengampuni orang yang menyakiti hatiku?"
- "Semua kekayaan dan ketenaran hidup yang aku miliki dan rasakan ternyata sia-sia belaka."
- "Mengapa aku meninggalkan pelayanan sebagai penyanyi gospel gereja dan menjadi penyanyi dunia?"
- "Lebih baik melayani sebagai penyanyi gospel yang tidak dikenal, daripada menjadi penyanyi terkenal tapi akhir hidup tersiksa di neraka selamanya ..."
Tapi semua penyesalan itu sudah terlambat .... Sekali orang berada di neraka maka dia selama-lamanya tidak akan bisa keluar. Neraka hanya bisa dihindari pada saat manusia masih hidup, bukan setelah mati!
Whitney Houston mengingatkan kita satu hal: segala sesuatu yang kita miliki dan banggakan di dunia ini tidak ada artinya apa-apa jika hidup kita berakhir di neraka yang kekal. Hidup di dunia hanya beberapa puluh tahun, tetapi neraka itu kekal selamanya. Seharusnya setiap anak Tuhan TAKUT dan GENTAR membayangkan masuk neraka, sehingga selalu menjaga hidupnya di dalam kekudusan dan menjadi pelaku Firman dengan setia.
Pesan Tuhan di akhir jaman ini sangat kuat yaitu: PASTIKAN DIRI SENDIRI UNTUK SELALU MELEKAT KEPADA KASIH KRISTUS! Itu saja!
Melekat pada kasih Kristus adalah dengan bertemu setiap hari dengan Tuhan Yesus di dalam pujian, penyembahan dan doa. Setiap hari membaca Firman Tuhan minimal 10 pasal. Merenungkan dan melakukan setiap kebenaran Firman Tuhan dengan setia. Tekun berdoa puasa.
Kita sama sekali tidak perlu memikirkan orang lain, pelayanan atau apapun -- jika hati kita belum memiliki jaminan keselamatan kekal. Ada satu pertanyaan yang bisa dijadikan gambaran, apakah kita sudah “melekat” pada kasih Kristus atau belum. Pertanyaan itu adalah: “Kalau saya mati sekarang ini, apakah saya masuk surga?” Jika jawabannya “tidak tahu” atau “ragu-ragu” -- itu artinya belum memiliki hubungan yang melekat dengan Tuhan Yesus. Itu artinya menjadi orang Kristen baru sebatas pengetahuan di akal pikiran dan tidak mengenal Tuhan Yesus secara pribadi.
Sekarang ini waktunya kita mulai membangun hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus setiap hari - dan melekat erat dengan kasih Kristus. Pada saat kita mengenal Tuhan Yesus dengan pimpinan Roh Kudus, maka Allah Bapa akan mengalirkan berkat keselamatan kepada suami, istri, anak, dan orang-orang yang ada di sekitar kita.
Sama sekali tidak ada gunanya jika kita memiliki harta kekayaan dan ketenaran sementara hidup kita berakhir di neraka. Sama sekali tidak ada gunanya kita sibuk pelayanan dan berusaha membuat banyak orang bertobat, jika diri kita sendiri tidak selamat. Jangan sampai kita berdiri di depan takhta Tuhan dan membanggakan pelayanan kita, tapi ternyata kita diusir ke neraka kekal.
Bukan setiap orang Kristen masuk surga (orang yang berseru Tuhan-Tuhan di gereja), tapi yang masuk surga adalah anak Tuhan yang hidupnya melekat pada kasih Kristus dan menjadi pelaku Firman yang setia.
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (Matius 7:21)
Tuhan Yesus tidak menginginkan prestasi hidup kita, kehormatan kita bahkan kekayaan kita. Itu semua tidak ada artinya di hadapan Tuhan yang maha kuasa. Yang Dia inginkan adalah : hati kita melekat erat pada hatiNya.
Tetap semangat di dalam Kristus
GBU
Langganan:
Postingan (Atom)

